Untuk mu, dari dulu, hingga saat ini, adakah kau tahu aku masih mengharapmu? Aku tak saat ini tatap mataku adakah forex kau tahu semua itu!

Aku tak ingin kau mengetahui aku masih mengharapmu, masih menginginkanmu, aku masih mengingat semua detail tentang dirimu, aku tak ingin kau tahu itu. Satu cerita tentangmu, masih ada hingga saat ini dalam hatiku. Terkadang aku sangat ingin pergi dari tempatku berpijak saat ini, dan melangkah kembali ke masa lalu dimana ada kau di setiap pagiku. Namamu, selalu terucap dimulutku, dan tak pernah sekalipun hilang dari pikiranku. Tahukah kau, disetiap malam yang kurasakan hanya rindu ini padamu, dan kala rindu itu datang aku bersimpuh memohon pada tuhan agar mendatangkan kau dihadapanku walau hanya dalam mimpi saja. Yang kupunya saat ini hanya potret kecil kenangan tentangmu, dalam ingatanku.

Mungkin tak bisa dibayangkan oleh orang lain walau aku menceritakannya, tak bisa dicetak dalam bentuk foto. Yang bisa kulakukan hanya menulis semua saat bersamamu dalam beberapa lembar kertas yang mudah robek. Tiga tahun sudah, aku terus seperti ini. Bukan karenamu aku jadi seperti ini, tapi memang karena diriku sendiri menginginkanya tetap seperti ini.

Aku tak pernah menyalahkanmu atas cinta yang takkan mungkin terbalas ini, aku tak pernah ingin memaksamu, karena bagiku tak ada artinya bila kau hanya terpaksa mencintaiku. Aku tak pernah menyalahkanmu atas segala yang kurasakan. Tiga tahun bukan waktu yang singkat, menurutku. Mungkin diluar sana ada orang yang sudah memendam cintanya berpuluh puluh tahun, mungkin diluar sana ada orang yang telah sakit hati berpuluh puluh tahun pula, mungkin diluar sana ada orang yang telah setia bersabar menunggu orang yang dicintainya lebih dari 10 tahun. 3 tahun, hanya 3 tahun dibanding perbandingan seluruh manusia di bumi, angka yang termasuk kecil bukan? Masih bisa dihitung dengan satu tangan.